Rabu, 23 April 2014

Open Recruitment DPK Peradah Surakarta


Sepeninggal Ketua, Ketut Astika dalam menjalankan tugasnya ke luar Solo, DPK Peradah Surakarta sempat mengalami masa - masa sulit untuk mengembalikan jiwa dan semangat para pengurusnya dalam menjalankan aktivitas organisasi seperti biasanya. Kondisi tersebut dapat diibaratkan seperti badan yang harus mampu berjalan sendiri tanpa kepala. Hal tersebut yang akhirnya membuat para pengurus memutuskan untuk menunjuk Listiyo Budi Santoso dalam posisinya sebagai Ketua Bidang Litbang agar naik sementara kedudukannya menjadi Penanggungjawab sementara untuk mengganti Ketut Astika. Adanya penanggungjawab sementara dimaksudkan untuk membangun jiwa dan semangat para pengurus agar tetap mampu aktif dalam program - program kegiatan yang sempat terbengkalai semenjak ditinggal sang ketua.




Dan kini, kami kembali untuk mengajak Anda, para pemuda - pemudi Hindu Surakarta yang mau ikut aktif dalam kegiatan organisasi keagamaan Hindu Surakarta untuk bergabung dalam keluarga besar DPK Peradah Surakarta. Open Recruitment dibuka mulai hari ini dan malam puncak pada perayaan Dharma Shanti se Kota Surakarta yang bertepatan dengan Hari Tilem pada Selasa tanggal 29 April 2014 di Pura Bhirawa Dharma, Kopasus.

Apapun minat, bakat, tujuan, visi, dan misi Anda, jika itu untuk kebaikan generasi penerus Hindu berikutnya, akan kami tampung dan kami kembangkan disini. Untuk bukti eksistensi kami, kami juga akan menampilkan pertunjukkan musik pada malam puncak open recruitment kami.

Kami tunggu kehadiran Anda :)

Jumat, 26 April 2013

Puja Wali (Piodalan)

dalam rangka memperingati hari Puja Wali (Piodalan) Pura Indra Prastha (kesekretariatannya Peradah Solo) ke - 10 yang jatuh tepat pada hari ini, Peradah Solo mau sedikit sharing tentang apa itu Puja Wali (Piodalan).

Piodalan merupakan salah satu bagian dari upacara Dewa Yadnya, jadi sebelum ngebahas lebih lanjut apa itu Piodalan, Peradah Solo akan membahas sekilas mengani apa itu upacara Dewa Yadnya.


Upacara Dewa Yadnya adalah pemujaan atau persembahan sebagai perwujudan bakti kepada Hyang Widhi dalam berbagai manifestasinya, yang diwujudkan dalam bermacam-macam bentuk upakara. Bakti, bertujuan untuk mengucapkan terima kasih kepada Hyang Widhi terhadap hamba-Nya dan mohon Kasih-Nya agar kita mendapatkan berkah, rahmat dan karunia-Nya sehingga kita dapat hidup dengan selamat.
Upacara Dewa Yadnya dapat dilaksanakan di Sanggah atau Pemerajan, di Pura atau Khayangan-khayangan dan ditempat-tempat suci yang setingkat dengan itu. Upacara Dewa Yadnya dapat dilakukan pada tiap-tiap hari dan ada pula yang dilakukan secara periodik (berkala). Upacara Dewa Yadnya yang dilakukan setiap hari dapat dilaksanakan dengan melakukan Puja Tri Sandya dan Yadnya Sesa. Sedangkan Upacara Dewa Yadnya yang dilaksanakan secara periodik, dapat dilakukan pada hari-hari tertentu, misalnya kebaktian yang dilakukan pada Hari Galungan, Kuningan, Saraswati, Ciwarartri, Purnama, Tilem, Piodalan-piodalan dan lain sebagainya, demikian pula dengan mengadakan Tirtha Yatra ke tempat-tempat suci.

Salah satu Sloka yang tertuang dalam Bhagavad Gita mengenai Dewa Yadnya:

Brahma rpanam brahma havir
brahmagnau brhamana hutam

brahmai va tena gantavyam
brahma karma samadhina. (bh.G.IV.24)

Artinya :
Dipujanya Brahman, persembahyangannya Brahman oleh Brahman dipersembahkan dalam api brahman, dengan memusatkan meditasinya kepada Brahman dalam kerja ia mencapai Brahman.





Lalu, Apa itu Piodalan?

Piodalan berasal dari kata wedal yang artinya ke luar, turun atau dilinggakannya yang dalam hal ini Ida Sang Hyang Widhi dengan segala manifestasinya menurut hari yang telah ditetapkan untuk pemerajan / sanggah, pura sebagai kahyangan sebagaimana yang dijelaskan babad Bali, piodalan disebut pula sebagai petirtayan, petoyan, dan puja wali yang merupakan upacara pemujaan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi WaƧa dengan segala manifestasinya di tempat suci tersebut dengan nglinggayang atau ngerekayang (ngadegang) dalam hari - hari tertentu.

Piodalan juga merupakan perayaan hari suci di pura yang biasanya dilakukan secara periodik baik berdasarkan atas sasih,, wuku atau pawukon dll. Makna Hari Piodalan sesungguhnya netral atau bisa dikatakan tidak mempunyai makna sama sekali, sampai diri kita sendiri yang memberi makna.

Bagi umat yang bukan Hindu, mungkin saja memberikan makna yang biasa-biasa saja atas Hari Piodalan. Bahkan, mereka tidak melihat Hari piodalan itu sebagai sesuatu yang spesial. Mereka menganggapnya tidak mempunyai makna apa-apa terhadap kehidupan mereka.

Lain halnya bagi kita sebagai umat Hindu. Umat Hindu akan memberikan makna tersendiri terhadap Hari Piodalan ini. Bahkan, antara umat Hindu yang satu dengan umat Hindu yang lainnya akan memberikan makna yang berbeda juga.



sumber:
  • http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=473&Itemid=96
  • http://ajaranhindu.blogspot.com/2010/08/makna-hari-piodalan.html
  • http://sejarahharirayahindu.blogspot.com/p/piodalan.html


Kamis, 04 April 2013

Hari Raya Galungan dan Kuningan

Bulan Maret kemarin, bisa dibilang bulannya agama Hindu. Kenapa? Karena ada 2 hari besar di bulan itu, yaitu Hari Raya Nyepi yang dirayakan setahun sekali dan Hari Raya Galungan yang dirayakan 6 bulan sekali. Mungkin udah telat banget kalo kami di sini ngebahas Hari Raya Nyepi, tapi kayaknya belum telat-telat banget nih buat ngebahas Hari Raya Galungan. Yak, masih ada rangkaian hari raya setelah Hari Raya Galungan, yaitu Hari Raya Kuningan, yang jatuh pada Sabtu, 6 April 2013 ini.

Mau tau lebih lanjut tentang makna rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan?

check this out, guys !!




Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan.

Sejarah Hari Raya Galungan masih merupakan misteri. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi, bahwa pada abad ke XI di Jawa Timur, Galungan itu sudah dirayakan. Dalam Pararaton jaman akhir kerajaan Majapahit pada abad ke XVI, perayaan semacam ini juga sudah diadakan.

Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan:

Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.

Artinya: Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.


Menurut Pustaka (lontar) Djayakasunu, pada hari Galungan itu Ida Sanghyang Widhi menurunkan anugrah berupa kekuatan iman, dan kesucian batin untuk memenangkan dharma melawan adharma. Menghilangkan keletehan dari hati kita masing-masing. Memperhatikan makna Hari Raya Galungan itu, maka patutlah pada waktu-waktu itu, umat bergembira dan bersuka ria. Gembira dengan penuh rasa Parama Suksma, rasa terimakasih, atas anugrah Hyang Widhi. Gembira atas anugrah tersebut, gembira pula karena Bhatara-bhatara, jiwa suci leluhur, sejak dari sugi manek turun dan berada di tengah-tengah pratisentana sampai dengan Kuningan.


Rangkaian perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan merupakan rangkaian perayaan yang paling panjang di antara hari-hari raya Agama Hindu, jarak waktunya selama 60 hari, dimana rangkaiannya diawali pada :

1. Hari Sabtu Kliwon Wariga
, yang disebut dengan Tumpek Pengarah atau Pengatag, tepatnya 25 hari sebelum Hari Raya Galungan dan persembahan ditujukan kepada dewa Sankara (nama lain Dewa Siva)sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan dengan mempersembahkan sesajen pada pohon-pohon kayu yang menghasilkan buah, daun, dan bunga yang akan digunakan pada Hari Raya Galungan.

2. Sugihan Jawa atau Sugihan Jaba ; yaitu Sebuah kegiatan rohani dalam rangka menyucikan bhuana agung (makrokosmos) yang jatuh pada hari Kamis Wage Sungsang. Kata Sugihan berasal dari urat kata Sugi yang artinya membersihkan dan Jaba artinya luar, jadi Hari Sugihan Jawa tersebut bukanlah hari Sugihan bagi para pengungsi leluhur-leluhur dari jawa pasca bubarnya Majapahit. Maksud sebenarnya adalah pembersihan Bhuana Agung - sekala-niskala.
Dalam lontar Sundarigama dijelaskan: bahwa Sugihan Jawa merupakan "Pasucian dewa kalinggania pamrastista bhatara kabeh" (pesucian dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara). Pelaksanaan upacara ini dengan membersihkan alam lingkungan, baik pura, tempat tinggal, dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Dan yang terpenting adalah membersihkan badan phisik dari debu kotoran dunia Maya, agar layak dihuni oleh Sang Jiwa Suci sebagai Brahma Pura.

3. Sugihan Bali; Jatuh pada hari Jumat Kliwon wuku Sungsang (sehari setelah Sugihan Jawa). Bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada dalam diri. Jadi Sugihan Bali memiliki makna yaitu menyucikan diri sendiri, sesuai dengan lontar Sundarigama: "Kalinggania amrestista raga tawulan" (oleh karenanya menyucikan badan jasmani-rohani masing-masing /mikrocosmos) yaitu dengan memohon tirta pembersihan /penglukatan. Manusia tidak saja terdiri dari badan phisik tetapi juga badan rohani (Suksma Sarira dan Antahkarana Sarira). Persiapan phisik dan rohani adalah modal awal yang harus diperkuat sehingga sistem kekebalan tubuh ini menjadi maksimal untuk menghadapi musuh yang akan menggoda pertapaan kita.

4. Panyekeban – puasa I ; Jatuh pada hari Minggu Pahing Dungulan.Panyekeban artinya mengendalikan semua indrya dari pengaruh negatif, karena hari ini Sangkala Tiga Wisesa turun ke dunia untuk mengganggu dan menggoda kekokohan manusia dalam melaksanakan Hari Galungan. Dalam Lontar Sunarigama disebutkan : "Anyekung Jnana" artinya mendiamkan pikiran agar tidak dimasuki oleh Bhuta Galungan dan juga disebutkan "Nirmalakena" (orang yang pikirannya yang selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Bhuta Galungan.
Melihat pesan Panyekeban ini mewajibkan umat Hindu untuk mulai melaksanakan Brata atau Upavasa sehingga pemenuhan akan kebutuhan semua Indriya tidak jatuh kedalam kubangan dosa; pikirkan yang baik dan benar, berbicara kebenaran, berprilaku bijak dan bajik, mendengar kebenaran, menikmati makanan yang sattvika, dan yang lain, agar tetap memiliki kekuatan untuk menghalau godaan Sang Mara. Jadi tidak hanya nyekeb pisang (biu) atau tape untuk bebantenan saja.

5. Penyajaan – puasa II ; jatuh pada hari Senin Pon Dungulan. Pada hari ini umat mengadakan Tapa Brata Yoga Samadhi dengan pemujaan kepada Ista Dewata. Penyajaan dalam lontar Sundarigama disebutkan : "Pangastawaning Sang Ngamong Yoga Samadhi" upacara ini dilaksanakan pada hari Senin Pon Dungulan. Dengan Wiweka dan Winaya, manusia Hindu diajak untuk dapat memilah kemudian memilih yang mana benar dan salah. Bukan semata-mata membuat kue untuk upacara.

6. Penampahan – puasa III ; jatuh pada hari Selasa Wage Dungulan tepat sehari sebelum hari Raya Galungan. Penampahan berasal dari kata tampah atau sembelih artinya ; bahwa pada hari ini manusia melakukan pertempuran melawan Adharma, atau hari untuk mengalahkan Bhuta Galungan dengan upacara pokok yakni Mabyakala yaitu memangkas dan mengeliminir sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri, bukan semata-mata membunuh hewan korban, karena musuh sebenarnya ada di dalam diri (Sad Ripu, Sad Atatayi, Sapta Timira, dll), dan bukan di luar diri kita termasuk sifat- sifat hewani tersebut.
Ini sesuai dengan lontar Sundarigama yaitu ; "Pamyakala kala malaradan". Inilah puncak dari Brata dan Upavasa umat Hindu, bertempur melawan semua bentuk Ahamkara - kegelapan yang bercokol dalam diri.
Hari Penampahan Galungan inilah yang pada dewasa ini paling kehilangan makna spiritualnya yang paling penting. Konsentrasi kebanyakan keluarga membuat makanan yang enak-enak. Padahal ada upakara penting di Madya Mandala untuk Memohon Tirta dari Luhuring Akasa dalam rangka me-nyomia Buta Kala di Bhana Agung dan Alit yang sering terlewatkan. Selama ini justru sebagain besar dari kita malah berpesta pora makan, lupa terhadap jati diri, menikmati makanan, mabuk. Sehingga bukan Nyomya Bhuta Kala- Nyupat Angga Sarira, malah kita akhirnya menjelma jadi Bhuta itu sendiri.

7. Galungan – lebar puasa ; Jatuh pada hari Rabu Kliwon wuku Dungulan, Hari ini merupakan hari kemenangan dharma terhadap adharma setelah berhasil mengatasi semua godaan selama perjalan hidup ini, dan merupakan titik balik agar manusia senantiasa mengendalikan diri dan berkarma sesuai dengan dharma dalam rangka meningkatkan kualitas hidup dan dalam usaha mencapai anandam atau jagadhita dan moksa serta shanti dalam hidup sebagai mahluk yang berwiweka.

8. Manis Galungan; Setelah merayakan kemenangan , manusia merasakan nikmatnya (manisnya) kemenangan dengan mengunjungi sanak saudara mesima krama dengan penuh keceriaan, berbagi suka cita, mengabarkan ajaran kebenaran betapa nikmatnya bisa meneguk kemenangan. Jadi pada hari ini umat Hindu wajib mewartakan-menyampaikan pesan dharma kepada semua manusia inilah misi umat Hindu Dharma. Cara menyampaikan ajaran kebenaran adalah dengan Satyam Vada yaitu mengatakan dengan kesungguhan dan kejujuran.

9. Pemaridan Guru; Jatuh pada hari Sabtu Pon Dungulan, maknanya pada hari ini dilambangkan dengan kembalinya Dewata-dewati, pitara-pitari, para leluhur ke tempat payogannya masing-masing dan meninggalkan anugrah berupa kadirgayusan yaitu ; hidup sehat umur panjang, dan hari ini umat menikmati waranugraha dari dewata. Di beberapa daerah dibali biasanya dilakukan dengan sarana banten "tegen-tegenan" yang berisi hasil bumi berupa padi, buah-buahan dan aneka rupa jajanan yang tujuannya diperuntukkan untuk memberikan bekal kepada para leluhur yang akan mantuk kembali ke sunya loka.

10. Pemacekan Agung; Jatuh pada hari Senen Kliwon wuku Kuningan. Tepat pada hari ini merupakan hari pertengahan dari rangkaian panjang hari raya Galungan. Hari ini tepat 30 hari dari sejak hari Tumpek Pengarah, dan 30 hari menjelang hari Pegat Uwakan (Buda Kliwon Pahang). Pada hari ini umat menancapkan dan meneguhkan tekadnya kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam menghadapi dan mengarungi kehidupan selanjutnya dengan senantiasa berjalan dalam koridor dharma. Pada hari ini dibeberapa wilayah dibali dilakukan persembahyangan dengan sarana raka ajengan tipat pesor sebagai rasa syukur dan sujud bakti kehadapanNya.

11. Sepuluh hari setelah Galungan disebut Kuningan. Pada Hari ini diyakini bahwa para dewata dan roh-roh leluhur akan turun ke marcapada/mayapada untuk menerima sembah bakti umat dan prati sentananya dengan segala cinta kasihnya, dan pada siang harinya para dewata dan roh suci leluhur kembali menuju kahyangan stana-nya masing-masing yang diyakini tempatnya di svargaloka (alam sorga). Kuningan merupakan hari kasih sayang, yang disimbulkan melalui berbagai pratika upakara seperti: tamiang, koleman, sulangi, tebo, dan endongan.





Rangkaian perayaan Galungan dan Kuningan berkahir pada Hari rabu Kliwon wuku Pahang yang sering disebut hari raya Pegat Uwakan. Pada hari ini umat melakukan persembahyangan mengahturkan suksmaning manah lan idep kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas karunia dan wara nugrahanya bisa melaksanakan rangkaian perayaan hari Raya Galungan dengan sempurna.

Demikian makna Hari Raya Galungan sebagai hari pendakian spritual dalam mencapai kemenangan /wijaya dalam hidup dan kehidupan ini, ditinjau dari sudut pelaksanaan upacara dan makna filosofisnya.



sumber:
  • http://www.beritabali.com/index.php/page/berita/tbn/detail/28/08/2012/Makna-Hari-Raya-Galungan-dan-Kuningan/201107021405
  • http://www.denpasarkota.go.id/main.php?act=i_opi&xid=58
  • http://www.hindubatam.com/upacara/dewa-yadnya/hari-galungan.html

Rabu, 03 April 2013

Pasraman Kilat (23-24 Maret 2013)

Pasraman Kilat ini salah satu Program Kerja yang besar buat DPK Peradah Surakarta, khususnya bidang Kaderisasi. Ya, seperti yang kita tau, Kaderisasi adalah salah satu bidang yang bertugas sebagai peng-kaderan organisasi. Pasraman Kilat ini juga sebagai bukti salah satu kegiatan positif kami, bagaimana kami dapat merangkul dan mengajak anak-anak, generasi muda Hindu, dari SD sampai SMA untuk lebih mendalami ajaran agama Hindu.

Pasraman Kilat ini mengambil tempat di Sahasra Adipura atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sonosewu, di daerah Bekonang, Karanganyar. Kenapa di sana? Banyak pertimbangan bagi kami, salah satunya adalah karena kami ingin lebih memahami yoga. Ya, Sonosewu bisa dibilang sebagai salah satu tempat meditasi dan yoga di sekitar Surakarta.

Tidak hanya dalam bentuk meditasi dan yoga, namun kami juga membangun jiwa persaingan yang positif pada generasi muda Hindu dengan mengadakan berbagai lomba, yaitu lomba mewarnai untuk anak SD, dan lomba Sembahyang untuk SMP dan SMA.

Acara yang mengambil tema, "Dengan Pasraman Kilat, kita tanamkan nilai-nilai Tri Hita Karana pada generasi muda Hindu Surakarta" ini bekerjasama dengan Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma Surakarta (KMHD Surakarta) dan Forum Pemuda Lintas Agama Surakarta (FORPLAS). DPP Peradah Jawa Tengah juga turut berpartisipasi dalam acara ini, dengan menjadi salah satu pembicara dan juri.

Kami senang, kami mendapat dukungan yang luar biasa oleh Parisadha Hindu Dharma Indonesia Surakarta (PHDI Surakarta) dan umat Hindu Surakarta. Kami juga mendapat respon yang positif dari para peserta dan orang tua murid.
Acara perdana ini, diharapkan menjadi agenda tahunan yang wajib dilakukan oleh DPK Peradah Surakarta. 

registrasi peserta pasraman kilat - Pura Indraprastha, Mutihan, Laweyan, Surakarta
Persiapan Konsumsi

persiapan menuju Sahasra Adipura



Yoga Pagi


suasana Lomba Mewarnai


suasana Lomba Sembahyang

salah satu Game oleh FORPLAS




Foto Panitia dan Peserta Pasraman Kilat


Launching DPK Peradah Surakarta (Solo Car Free Day, Februari 2013)

Setelah nama DPK Peradah Surakarta cukup dikenal oleh umat Hindu Surakarta, DPK Peradah lainnya dan cukup membuat DPP Peradah Jawa Tengah kagum dengan progress kami, kami ingin lebih mengenalkan diri kami kepada seluruh warga Surakarta. Salah satu cara kami untuk mengenalkan siapa kami adalah dengan melakukan Launching DPK Peradah Surakarta yang mengambil tempat di Solo Car Free Day, pada 17 Februari 2013.

Acara yang sempat tertunda beberapa minggu karena satu dan lain hal itu dapat berjalan LANCAR dan SUKSES. Acara yang bertemakan "Indahnya Perbedaan" berisi berbagai macam tarian daerah, seperti Tarian daerah Jawa dan Bali, pertunjukkan musik akustik, dan penampilan drama sederhana tampil selama 2 jam, dari pukul 07.00 WIB - 09.00 WIB. Pada acara ini, kami tidak sendirian, teman-teman dari Forum Pemuda Lintas Agama Surakarta (FORPLAS) juga turut berpartisipasi dalam memeriahkan acara ini.



Pertunjukkan Musik Akustik
Salah satu tari tradisional Jawa
Salah Satu tari tradisional Bali
salah satu adegan drama
Para Penonton
menyanyi bersama seluruh panitia, sebagai penutup acara
foto bersama









Kantin Peradah Solo (KAPAS)

KAPAS, merupakan salah satu sarana untuk kami, para pengurus DPK Peradah Surakarta untuk lebih mengenal arti tanggungjawab, bekerjasama dalam mengelola suatu hal, dalam hal ini uang. Namun, bukan hanya tentang uang, KAPAS mengajarkan kami tentang arti keramahan, ya, KAPAS menuntut kami untuk dapat berinteraksi dengan baik kepada seluruh pelanggan.

KAPAS, kantin yang buka setiap minggu pagi, pukul 08.00-11.00 WIB di Pura Indraprastha, Mutihan, Laweyan, Surakarta, awalnya hanya menjual berbagai makanan ringan dan minuman kemasan, stiker dan aksesoris Hindu. Namun, sekarang, jumlah makanan dan minuman pun lebih bervariasi.


tampilan perdana KAPAS, Januari 2013



Beri Bunga untuk Ibu - sebuah aksi damai peringatan Hari Ibu

22 Desember 2012 sebagai peringatan Hari Ibu, jatuh tepat pada hari Sabtu. Kami, sebagai generasi muda Hindu, peduli dan sangat menyayangi sosok Ibu. Ya, kami tau, kami bukan apa-apa tanpa sosok Ibu. Salah satu bukti kepedulian dan rasa cinta kami terhadap Ibu, kami ungkapkan melalui kegiatan positif "Beri Bunga untuk Ibu - sebuah aksi damai peringatan Hari Ibu".

Pada aksi ini, kami memberikan bunga untuk setiap Ibu yang melintasi jalan utama Slamet Riyadi pada hari Ibu. Bunga yang kami buat khusus untuk Ibu, dengan untaian kata mutiara di dalamnya, disertai doa yang tulus untuk para wanita hebat tersebut.

Aksi ini juga membuktikan kepada seluruh warga Solo, kami, Pemuda Hindu ada dan peduli terhadap Ibu.




Ketua DPK Peradah Surakarta memberikan bunga kepada salah satu Ibu pengguna Jalan Slamet Riyadi, Solo



Foto Bersama DPK Peradah Surakarta